Air mata penuh luka

AIRMATA PENUH LUKA [2 APRIL 2007]

Menangislah mengutuk malam, mendendam bumi yang terlampau tua untuk bisa berotasi mengikuti detak alam, terlampau lelah bahkan untuk menciptakan fatamorgana yang kasat mata sekalipun, dan langit terus menerus meludahi bumi, mengejeknya, mendustainya… tak seharusnya seperti ini, bumi dan langit memang berbeda akan tetapi mereka diciptakan untuk menjadi satu. Untuk saling melengkapi bukan saling menyindir dan bertukar senjata obralan.

Sejenak di suatu pagi yang damai, burung pipit kecil hilir mudik mengitari sekelibat awan tipis, semut-semut bekerja lebih giat dari biasanya menggali tumpahan gula cair yang menumpuk dan mulai mengeras tertimpa angin semilir, daun-daun saling berbisik dan terlihat bercanda dengan capung-capung yang menggelitikinya, kelopak bunga bermekaran genit berebut ingin melihat gagahnya matahari pagi yang mulai membulat diatas sana. Semua terlihat begitu sempurna. Begitu bahagia dan begitu ceria.

Tapi… sepersekian detik kemudian sesosok raksasa berperawakan gahar datang, bukan hanya satu, tapi dua.. tiga.. tujuh.. sepuluh.. tak mampu lagi dihitung, dilihat, mereka tertawa sangat bising, mengeluarkan suara yang sama. Semuanya sama… suara ini bagai di neraka. Memekakkan.

Mereka membabi buta, memutilasi batang pohon yang tadinya baru bangun dari tidurnya, mencabuti paksa akar-akar mereka yang menghujam tanah yang mengaduh diinjak-injak. satu persatu. Sosok jahat itu terus dicampakkan kesana-kemari oleh sosok yang lain. Sosok yang seharusnya melindungi dan menjaga semesta dari lahirnya hingga matinya.

Bunga-bunga melayu, semut-semut, capung dan semua penghuni merasa perlu evakuasi secepatnya, akan tetapi semua gagal diselamatkan. Batang-batang kokoh sahabat kami itu digulingkan dan didorong ke sebuah bak besar beroda banyak, dihempaskan begitu saja, tidak memperdulikan jeritan, tangisan, isakan. Mereka tetap saja menyiksa.

Mereka melemparkan jaring dan mengikat kaki-kaki sahabat kami yang lain lalu mengunci kami pada kotak hitam lembab dan bau anyir, bahkan dengan penuh tawa kepuasan meledakkan besi panas kearah sahabat kami si raja hutan dan sitambun beruang yang berusaha menyelamatkan kami semua dari jeratan kutukan kejahatan tiada henti ini. Mereka tewas. Mereka sahabat kami. Pahlawan kami.

Belum selesai semuanya…

Mereka menebarkan sesuatu, menyiramkan cairan berbau tajam yang menusuk hidung kami. Mereka mambaginya rata kesegala penjuru. Lalu salah dua dari mereka mengeluarkan sesuatu yang menciptakan cahaya terang berwarna merah dan mereka melemparkannya.

Astaga…

Itu.. mereka membakarnya, menghabiskannya, mengubahnya menjadi debu yang teronggok tak ada daya. Disana kulihat salah satu sahabat karibku, teman seperjuangan ku, tak bernyawa lagi dan sadis tak berbulu lagi. Toto tupai sahabat ku. R.I.P…

Sekarang mereka membawa kami menjauh dari tempat yang mencekam itu, jauh. Sangat jauh. Kami tak pernah tahu kemana kami dan bagaimana nasib kami selanjutnya.

Sekarang..

Lima tahun semenjak kerusuhan itu terjadi, aku kembali ke habitatku lagi, tempat baru. Hampir sama dengan tanah kelahiranku dulu. Bersyukur dia yang telah merawatku setelah itu, membebaskanku.. disinilah aku.. bertemu kembali dengan beberapa sahabat-sahabat ku dulu. Kami berpelukan. Menangis penuh luka. Disinilah aku.. menceritakan kembali kemunafikan manusia yang menepikan realitas keberadaan kami.. bahwa kebiadaban yang mereka lakukan sepanjang masa di dunia ini. Kepada bumi ini, kepada langit ini.. telah membawa bencana terdasyat yang dikutuk sang pencipta..

Dan takkan pernah termaafkan..

Sampai mereka bertransformasi menjadi manusia pencinta, penjaga, pelindung dan penyayang.

Selama itu belum terjadi.. Bumi dan langit akan saling menusuk dan saling membunuh, menghancurkan tiap kepingan kehidupan yang ada didunia. Akan menimbulkan amarah dimasing-masing pihak. Langit. Dan. Bumi.. langit akan mengirimkan anak didiknya, menghempaskan anginnya sekuat lingkaran setan dan bumi akan menahan amarah yang menggetarkan tubuh ini, lalu mengeluarkan seluruh isi perut bumi, membelah daratan, mengosongkan lautan..

Dan hancurlah kita semua..

Oleh ulah yang tak terpelajar dan beragama..

Tidak berterima kasih..

Dan Airmata ini..

Airmata penuh luka..

By : Tenshi

One Response to “Air mata penuh luka”

  1. sea lead Says:

    CERITA APA c ini???
    aku gak nangkep nih esensinya

Leave a Reply